Apa yang disebut sebagai Taylor Swift Effect memberikan dampak finansial yang cukup luas. Dua malam turnya di Denver AS menambahkan USD 140 juta pada produk domestik bruto Colorado Ini berkat para penggemar yang menghabiskan biaya rata-rata USD 1.300 per orang untuk menginap di hotel, restoran, dan toko-toko.
Federal Reserve Philadelphia bahkan mengutip Swift dalam Beige Book bulan Juni. Dia mencatat bahwa Mei, di mana bulan penyanyi asal Pennsylvania ini tampil di Lincoln Financial Field di Philly selama tiga malam, merupakan bulan terkuat untuk pendapatan hotel di kota tersebut sejak sebelum pandemi.
Asosiasi Perjalanan AS juga memperkirakan bahwa secara kolektif, tur Eras di AS telah menambah lebih dari USD 5 miliar bagi perekonomian negara bagian.
“Dia seperti perusahaan besar yang pada dasarnya dia seakan-akan beroperasi di banyak sektor,” kata Carolyn Sloan ekonom tenaga kerja dan profesor Universitas Chicago.
“Audiensnya sangat muda dan kebanyakan perempuan untuk waktu yang lama, orang-orang dulu mungkin meremehkan betapa besarnya hal ini, secara ekonomi. Tapi sekarang tidak ada yang meragukan hal tersebut saya rasa,” tambahnya.
Penonton yang didominasi oleh kaum muda dan perempuan itu juga semangat menyambut Taylor Swift box office film tahun ini. Di sini, lagi-lagi, ia mengepakkan bisnisnya dengan studio-studio film Hollywood hingga box office di seluruh dunia untuk merilis Taylor Swift: The Eras Tour (film konser) pada bulan Oktober. Di Indonesia sendiri, film Taylor Swift: The Eras Tour ini ditayangkan pada bulan November lalu.
Taylor Swift itu sendiri adalah alat pemasaran yang hebat. Stacy Jones pendiri agensi pemasaran Hollywood Branded, memperkirakan bahwa penyanyi ini telah mengumpulkan lebih dari 130 miliar USD dari media.
Pada akhirnya, film ini berhasil meraup USD 93 juta pada akhir pekan pembukaannya dan telah meraup total lebih dari USD 250 juta di seluruh dunia.