Kepala Otoritas IKN Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Keahlian Kota Layak Huni dan Berkelanjutan dari UNDIP

Dengan kondisi tersebut, Bambang menawarkan pemikiran tentang kota masa depan yang layak huni dan berkelanjutan. “Saya menawarkan ‘Pendekatan 5D’ yang dapat dipertimbangkan untuk menelaah ulang kondisi perkotaan,” tutur Bambang.

Adapun “Pendekatan 5D” terdiri lima “D” yakni Design, Density, Diversity, Digitalization, dan Decarbonization. Pertama, desain spasial perlu ditinjau ulang agar lebih terdesentralisasi dan lebih mampu mengatasi berbagai guncangan, termasuk ekonomi, finansial, kesehatan, dan perubahan iklim. Kedua, pengalaman saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa kepadatan dapat membawa kerugian sekaligus keuntungan.

“Pandemi terbukti cepat menyebar di kawasan yang padat. Di saat yang sama, kawasan yang padat mendukung terjadinya perputaran ekonomi saat adanya karantina wilayah,” urainya.

Ketiga, terkait keragaman (Diversity), pandemi menyadarkan pentingnya kemudahan akses ke layanan dasar bagi seluruh warga kota tanpa terkecuali, termasuk pekerja informal dan kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak. Keempat, kehidupan digital adalah keniscayaan sebagai bentuk the new normal.

“Digitalisasi membuka peluang bagi usaha mikro dan kecil, mendorong otomasisasi yang humanis, dan memberi metode alternatif bagi masyarakat dalam mengonsumsi barang dan jasa,” jelasnya. Lebih lanjut, kehidupan digital telah berdampak nyata dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.

Keempat, Bambang menekankan terkait isu dekarbonisasi. Perubahan iklim dan berbagai permasalahan yang diakibatkannya telah dan akan sangat mewarnai pembangunan dan pengelolaan kota. “Karena itu, kehidupan perkotaan yang rendah karbon menjadi sangat penting dalam manajemen pembangunan kota,” terangnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *