Liputan6.com, Jakarta – Pengoperasian awal LRT Jabodebek kembali menemui kendala pasca hanya bisa mengoperasikan 9 rangkaian kereta atau trainset. Pasalnya, dari total 29 trainset yang ada, sebanyak 20 rangkatan LRT Jabodebek harus menjalani perawatan.
Keterbatasan ini turut memangkas pengoperasian LRT Jabodebek, dari sebelumnya 234 perjalanan setiap hari menjadi 131 perjalanan LRT setiap hari. Waktu tunggu atau headway antar kereta pun jadi molor hingga 1 jam, dari sebelumnya hanya 15 menit.
Manajer Public Relations LRT Jabodebek Kuswardoyo mengatakan, keterbatasan moda tersebut membuat waktu tunggu kereta lebih lama empat kali lipat di jam non sibuk (peak hours).
“Kami saat ini menjalankan sebanyak 9 trainset. Sehingga kami mengatur perjalanan pada hari kerja dengan mengurangi frekuensi pada non peak hours di antara jam 10.00-15.00 WIB, keberangkatannya menjadi sekitar 1 jam,” ujar Kuswardoyo, Jumat (27/10/2023).
Imbasnya, LRT Jabodebek juga harus memperpanjang jam pengoperasian dengan keberangkatan terakhir menjadi pukul 20.12 WIB.
“Jadi kami mengatur ulang jadwal perjalanan dengan mengurangi perjalanan di non peak hours, maka keberangkatan di jam tersebut menjadi 1 jam,” imbuh Kuswardoyo.
Toleransi Waktu Sibuk
Namun, LRT Jabodebek masih memberi toleransi pada waktu sibuk, baik pagi maupun sore hari ketika jam pemberangkatan atau pulang kerja. Untuk rute Jatimulya-Dukuh Atas, jeda waktu pemberangkatannya berjarak 30 menit di bawah pukul 09.30 WIB dan di atas pukul 15.00 WIB.
Sedangkan untuk LRT Jabodebek rute Harjamukti-Dukuh Atas, jeda waktu pemberangkatannya berjarak 30 menit di bawah pukul 09.42 WIB dan di atas pukul 15.12 WIB.
“Karena perjalanan KA akan berjalan sesuai sistem dan waktu tempuh. Sehingga akan ada perjalanan diantara jam 9.30 sampai 10.00 WIB masih ada yang 30 menit, tapi ada juga yang sebelum jam 10 sudah berjarak 1 jam,” terang Kuswardoyo.